WWW.CERITAINDO.SEXTGEM.COM

Find us On Facebook and Twitter
facebook.jpg | twitter.jpg

Cerita sexs
Sexs In School

Cherry dan aku datang bersama ke bekas
sekolah kami hari itu karena keperluan kami
masing-masing; Cherry harus melatih anak-anak
The Foxes (grup modern dance sekolahku) yang
akan tampil di kejuaraan dance akhir tahun,
sementara aku datang untuk menemani Vany,
adikku, menonton sparring tim basket putri SMP.
“Lu latian sampe jam berapa?” tanyaku pada
Cherry sambil keluar dari mobil.
“Jam… 4an gitu lah…” katanya sambil melirik
arloji. “Kan latian mulai jam 2. Basket sampe jam
berapa?”
“Mungkin sekitar jam 3… Gapapa ntar pulang
bareng aja,” jawabku.
“Hah? Terus sejam…? OOHH!! DASAR LU!” ujar
Cherry sambil tertawa dan memukul lenganku.
“Hahahaha… Udah lama tau ga di sekolah,”
jawabku sambil nyengir.
“Ih… Mesum dasar. Belom pernah kan ya sama
Vany di sekolah? Dulu sama gue terus kan lu…
Hehehe,” kata Cherry.
“Hehehe makanya…”
Menonton sparring basket memang bukanlah
satu-satunya tujuanku datang ke sekolah ini. Aku
ingin ML dengan Vany di gedung sekolah ini! Aku
ingin mengenalkan perasaan seru dan deg-
degannya ML bukan di rumah pada adikku.
“Eh tapi lu jangan terlalu nafsu lah… Kasian dia
lagi hamil gede gitu masih lu hajar juga…” kata
Cherry perlahan saat kami berjalan masuk.
“Iyaa… Lagian dianya yang tambah nafsu tau,”
kataku membela diri. Cherry nyengir.
“Iya sih katanya emang cewek hamil jadi tambah
nafsu…”
Ya, Vany, adikku yang berusia 15 tahun,
memang sedang hamil. Vany mengandung
anakku, kakaknya sendiri, dan sekarang
kandungannya sudah mencapai bulan kelima.
Sejak bulan Juni yang lalu hubunganku
dengannya memang bergeser jauh dari
selayaknya hubungan kakak-adik; mulai dari
saling menyentuh tubuh satu sama lain, hingga
akhirnya kami ML berkali-kali sebelum aku
pindah untuk kuliah di Singapore, dan akhirnya
Vany hamil (baca episode 5).
Dan entah kenapa, menurutku Vany (yang pada
dasarnya sudah sangat seksi untuk anak
seusianya) menjadi jauh lebih seksi saat ia hamil.
Perutnya yang buncit dan mulus selalu
merangsangku, dan dadanya yang luar biasa
montok dan besar (34DD sekarang) bisa
mengeluarkan susu yang manis sekarang. Selain
itu vaginanya menjadi lebih sempit dan hangat di
bagian dalam, di samping pantatnya yang
menjadi semakin montok dan padat. Sungguh
luar biasa!
“Hus! Tuh kan udah ngebayangin… Dasarrrr!”
bisik Cherry sambil mencolek bagian tengah
celanaku yang sudah mulai menonjol. “Lu
ngapain sama dia tadi pagi?”
Tadi pagi setelah aku puas meremas dan
menyedot susu dari dadanya yang montok,
akhirnya Vany men-titf*ckku dengan nikmat
hingga aku meledakkan spermaku banyak-
banyak di wajahnya. Untung ia tidak telambat
sampai di sekolah.
“Duh… Susah dijelaskan dengan kata-kata,
Cher…” jawabku. Cherry menggelengkan
kepalanya sambil nyengir.
Aku dan Cherry berjalan memasuki gedung SMA
sekolah kami. Saat itu jam pulang sekolah,
sehingga situasi sangat ramai. Setelah menyapa
beberapa adik kelas yang mengenal kami, Cherry
bergegas ke arah tangga yang akan
membawanya ke ruang latihan tari.
“Oke sampe ketemu ntar sore! Inget Dit jangan
terlalu nafsu!” ujar Cherry mengatasi keributan
suara anak-anak. Aku melotot memperingatkan,
tapi sahabatku ini nyengir nakal, menjulurkan
lidah, dan berjalan menjauh ke arah tangga. Aku
menggelengkan kepala sambil
memperhatikannya pergi… Eh? Sepertinya ada
yang berbeda dari Cherry.
Menyadari aku masih terpaku menatapnya,
sahabatku menoleh.
“Hus! Jangan melototin pantat gue terang-
terangan gitu ah…” katanya perlahan sambil
kembali berjalan mendekat. Aku tertawa.
“Haha… Nggak lah… Lu… Agak lain deh,” kataku
jujur.
“Hm? Lain apanya?”
“Gatau… Lu tambah berat ya?” tanyaku. Cherry
mengernyit.
“Eehh kurang ajar ya…!” jawabnya gengsi. Tapi
kemudian ia tersenyum… Penuh arti.
“Koq senyum gitu?”
“Emang ga boleh? Eh udalah gue udah mau telat
ini!” ujarnya sambil melirik arloji lagi. Aku
nyengir dan meremas pantat sahabatku yang
super montok.
“Yaya… Sampe ketemu ntar sore…”
“Eh nakal ya tangannya!” bisiknya sambil berbalik
dan berlari menaiki tangga, memamerkan
pantatnya yang bulat dan besar di balik celana
trainingnya yang merah terang.
Aku tersenyum saat memandangnya pergi…
Tapi sungguh, sepertinya ada yang lain dari
Cherry. Hmm… Tak apalah.
Aku berjalan perlahan ke arah gedung olahraga
sekolahku. Aku bisa mendengar suara decit
sepatu para pemain dan sorakan penonton, juga
suara debam bola basket yang didribble oleh
para pemain. Pertandingan sudah dimulai
rupanya. Gedung olahraga⎯saat sedang
dilangsungkan pertandingan di dalamnya⎯ selalu
terasa panas dan memberi ketegangan tersendiri
saat dimasuki, begitu pula saat ini.
Masuk, aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari
Vany… Tidak sulit. Selain karena perut buncitnya
yang menyembul di balik kemeja putih seragam
SMPnya, jumlah penontonnya sedikit, dan Vany
ternyata duduk di dekat bangku cadangan tim
sekolahku. Aku tersenyum. Tentu saja, Vany
adalah kapten tim basket putri SMP sebelum ia
hamil.
Raut muka adikku terlihat sangat serius
memperhatikan pertandingan. Aku menoleh ke
papan skor; quarter pertama, 12-10 untuk
sekolahku. Ketat. Aku berjalan mendekat ke arah
Vany. Vany begitu berkonsentrasi pada
pertandingan hingga tidak menyadari saat aku
duduk di sebelahnya. Aku melambai pada Tasya
(panggilan dari Natasha), adik Grace mantan
pacarku dan salah satu sahabat terbaik adikku,
yang menyenggol lengan Vany dan
mengangguk ke arahku sambil tersenyum. Vany
tersadar dan menoleh.
“Eehh Kak… Aku ga nyadar Kakak dateng!”
ujarnya riang sambil nyengir.
“Hahaha gapapa… Kamu serius banget ngeliatin
anak-anak,” kataku.
“Iya… Musuhnya jadi jago nih,” jawabnya serius,
kembali melihat ke lapangan. Saat itu seorang
pemain sekolah lain memblok passing tim
sekolahku dan menyetak angka 3 points. Vany
merengut.
“Passingnya.. Aduh… JESSICA KONSEN!!!” Vany
meneriaki seorang pemain sekolah kami yang
tidak kukenal. Jessica mengacungkan jempol ke
arah kaptennya, tampak gugup.
“Ini pertama kali dia main dari awal sih…” kata
Tasya di sebelah Vany.
“Point Guard ya dia?” tanyaku pada Vany sambil
mengamati Jessica, cewek mungil, kira-kira
setinggi adikku, dengan rambut dikuncir ekor
kuda. Adikku mengangguk. “Dia yang gantiin
aku jadi point guard. Kelas satu.”
“Erika mana?” tanyaku lagi. Aku kenal Erika; point
guard cadangan Vany, kelas 2.
“Keseleo kemaren pas latian,” jawab Tasya.
“… Padahal kalo pas latian keliatan gesit banget
loh si Jessica ini,” kata Vany. Natasha
mengangguk, membetulkan kacamatanya.
“Gesitnya sih sama kayak lu, Van, tapi sering ga
konsen… Terus belon begitu berani maennya. Ya
masih kelas satu sih… Ntar juga jadi jago,”
katanya. Vany mengangguk setuju. Aku pun
menyadari bahwa Jessica bergerak sangat gesit,
hanya ⎯ tidak seperti Vany ⎯ operannya masih
sering meleset dan mudah dibaca lawan.
Aku mengenal beberapa pemain basket tim putri
SMP karena mereka adalah teman-teman adikku.
Agnes sang Center bertubuh tinggi besar baru
saja mencetak angka. Kedudukan sekarang
14-13. Aku nyengir menikmati pertandingan ini.
Sudah lama aku tidak menonton pertandingan
basket seperti ini. Kulirik Vany yang duduk
tegang di sebelahku… Sepertinya ia sudah lupa
bahwa ia sedang hamil 5 bulan.
“Van, santai dikit… Inget kamu lagi hamil ga
boleh tegang-tegang,” kataku pelan padanya.
Vany tersadar dan nyengir, mengelus lenganku
dengan sayang dan mulai duduk bersandar ke
tembok.
“Hehehe iya kalo udah seru nonton basket gini
suka lupa,” katanya sambil mengelus-elus
perutnya yang buncit. Aku merasa penisku
mulai tegang, entah kenapa.
Terdiam, menonton lagi. Aku memperhatikan
adikku… Kemejanya terlihat sangat sempit
menahan dua tonjolan montok dadanya,
ditambah dengan perutnya yang buncit
menggiurkan. Aku melihat pundaknya… Hm?
Biru muda?
“Van, kamu pake BH biru muda ya…” bisikku
perlahan. Vany memukul lenganku sambil
tertawa.
“Koq liat sih? Emang keliatan dari balik baju?”
bisiknya balik. Aku mengangguk, nyengir.
“Yang tadi pagi putih basah ya…”
“Kena susu sama sperma! Kakak sih!” desis Vany
sambil mencubit lenganku. Aku tertawa.
“Kamu seksi, Van…”
“Hus! Kak…”
* * *
“Tapi bagaimana pun emang hebat kan anak-
anak…”
“Iya sih… Cuma maennya bikin deg-degan tipis-
tipis gitu,”
Aku dan Vany sedang berjalan perlahan
menyusuri koridor dari gedung olahraga
menuju ke gedung utama sekolah kami.
Pertandingan sudah berakhir, dimenangi oleh
SMP ku dengan skor tipis 38-34. Vany agak
bersungut-sungut dengan hasil ini, karena saat ia
bermain dulu SMP kami pernah membantai
mereka 60-8. Benar-benar tidak diberi
kesempatan.
“Udalah, Vann… Jangan bete gitu donk,” ujarku
menghiburnya.
“Hmm… Coba aku maen,” katanya. Tiba-tiba ia
geli sendiri dengan perkataannya dan terkikik.
“Ga mungkin ya… Hihihi…”
“Dasar…” kataku. Vany menggamit lenganku dan
menyenderkan dirinya padaku dengan sayang.
Kami berjalan dalam diam perlahan menyusuri
koridor sekolah, menuju ke lantai empat, ke
tempat Cherry latihan dance.
Sambil berjalan, Vany membelai-belai perutnya
yang buncit; sungguh entah kenapa setiap kali
aku melihatnya melakukan itu ada rangsangan
sangat besar yang menyerangku. Sembunyi-
sembunyi aku membetulkan penisku yang
tegang di balik celana jeansku.
“Kita pulang sekarang?” tanya adikku setelah
beberapa lama. Aku menggeleng.
“Nggak… Nunggu Cherry kelar latian MD,”
jawabku. Vany melirik arlojinya.
“Jam?”
“Empat…”
“Loh ini baru jam 3 kurang… Kita ngapain
sejam?” tanyanya, polos.
Ketika itu kami telah sampai di depan kelas
kosong di ujung koridor lantai empat yang dulu
sering aku pakai bersama Cherry sebagai tempat
kami ML sepulang sekolah. Saat itu Vany
sepertinya mengerti, menatapku yang nyengir
sambil menatapnya dengan tatapan meminta.
Vany menggelengkan kepala.
“Dasar mesumm…” bisiknya. Tapi ia
menggandengku masuk ke kelas itu. Aku
menutup pintu di belakangku perlahan. Kelas ini
tak memiliki jendela ke arah dalam, hanya ke
arah luar, itu pun agak tinggi di atas, karena
ruang ini sebenarnya adalah bekas gudang yang
diubah menjadi kelas. Dan karena terletak di
ujung koridor dan agak jauh dari kelas-kelas
yang lain, maka mendesah sekencang apa pun
akan agak susah terdengar.
“Emang gapapa, Kak di sini? Kalo ketauan orang
gimana?” tanyanya. Aku merangkul adikku.
“Gapapa… Aman koq. Kakak udah pake kelas ini
sejak kelas 3 SMP,” jawabku. Vany terbahak dan
memukul lenganku.
“Sama Cherry apa Grace?”
“Pernah dua-duanya,” jawabku tenang. Vany
tertawa lagi.
“Lebih sering sama Cherry kan pasti…” bisiknya.
Aku tertawa dan mengangguk.
“Cherry lebih heboh,” kataku bercanda.
“Tapi Tasya pernah bilang katanya dulu pas
Kakak ML di rumahnya, heboh banget MLnya
sama Grace,” kata Vany. Aku terkejut.
“Natasha juga suka intipin Kakak sama Grace???
Astagah kalian!” ujarku. Vany terbahak-bahak.
“Kita pengen tau lah, Kaaak…” jawabnya manja.
“Ah si Tasya enak tuh udah bibirnya sama
seksinya sama Grace, diajarin langsung lagi. Aku
kan cuma belajar dari ngintip doank.”
“Kamu juga udah hebat koq tapi, Van…” kataku.
Vany nyengir.
“Kakak yakin ini aman?” tanyanya sekali lagi. Aku
mengangguk, meyakinkannya.
Vany tersenyum, berjalan ke arah deretan meja
yang ada di tengah ruangan, dan menyenderkan
dirinya ke salah satu meja. Posenya seksi sekali;
kedua tangannya bertumpu ke meja, tersenyum
manis sekali padaku. Aku berjalan perlahan ke
arahnya, mendekatkan wajahku hingga berjarak
sangat dekat dengan wajahnya. Aku bisa
merasakan nafasnya yang agak tegang.
“Kakak tuh… Nafsunya gede banget deh…”
bisiknya. Ia membelai wajahku lembut. Kami
berciuman, lembut tapi penuh nafsu. Lidah kami
saling berbelit, berdecak memenuhi ruangan itu.
Perlahan, jemariku mulai merayap naik,
meremas kedua dada adikku yang montok dan
penuh susu, menggosok dan memainkannya
dengan nikmat. Aku merasakan desahan mungil
keluar dari mulut Vany, menikmati remasan dan
rangsanganku pada dadanya.
“Mmh… Kak…” desahnya. Tangannya yang
mungil merogoh selangkanganku, mengelus
tonjolan keras di baliknya. “Gede banget…”
“Kamu itu yang gede banget…” bisikku, terus
menciumi leher kurus adikku sambil meremas
dadanya dengan lembut, beberapa kali mengelus
perut buncitnya yang keras. Vany
menggelinjang tiap kali aku menyentuh titik-titik
tertentu yang merangsangnya; benar, adikku ini
lebih mudah terangsang saat ia hamil. Apa
semua wanita hamil memang seperti itu?
Aku menegakkan badanku sedikit. Vany telah
terduduk di atas salah satu meja, sedikit
terengah. Tangan kirinya menopang perutnya
yang buncit. Saat itu aku melihat bercak basah
pada kemeja putih adikku, tepat pada bagian
puting susunya. Aku nyengir nakal.
“Van… Kamu baru digituin masa udah keluar
susunya?” tanyaku menggodanya.
“Aaa… Kakak kan ngeremesnya heboh… Gimana
ga keluar,” jawab Vany sedikit malu. Aku
tersenyum, membuka kancing kemejanya
perlahan. Benar saja, BH biru muda yang
dikenakannya telah basah oleh susu.
“Hmmmhhh… Vannnyy… Kamu seksi banget,
sayang…” kataku. Kubenamkan wajahku pada
belahan dadanya yang 34 DD itu. Empuk dan
lembut sekali. Aku merogoh ke belakang
punggungnya, membuka kancing dan melepas
BH adikku.
Aku mundur dan terdiam sebentar. Tak pernah
aku habis pikir bagaimana adikku bisa memiliki
payudara sebagus dan sebesar ini; putih mulus
tanpa cacat sedikit pun, montok dan sungguh
bulat menantang. Putingnya coklat kemerahan
pun telah sangat tegang. Sekali lagi, aku
membenamkan wajahku dalam keempukannya.
“Aah… Kak… Jangan buru-buru donk…”
desahnya perlahan. Kumainkan kedua putingnya
perlahan-lahan dengan telunjukku, membuatnya
semakin kegilaan. Air susu sesekali menyemprot
dan mengalir dari putingnya. Kuremas dada
adikku kencang-kencang sekali lagi hingga
susunya benar-benar menyemprot keluar. Vany
menggelinjang dan mendesah setiap kalinya.
“Van… Kamu makhluk paling seksi yang pernah
kakak kenal,” bisikku. Vany tersenyum dan
membelai rambutku, mengecup keningku. Ku
sedot putingnya bergantian, meminum susunya
dengan nikmat, sementara tanganku membelai
perut hamilnya yang mulus. Penisku terasa
berdenyut-denyut, minta dibebaskan dari
bekapan celana dalam yang sempit.
“Mmhh.. Nnhh.. Kaa… K… Jangan nafsu-nafsu
minumnya… Ooh…” desah Vany. Lidahku
memainkan kedua putingnya, memelintirnya
dan menyedot setiap tetes yang keluar dari
dalamnya. Rupanya Vany tidak tahan
dibegitukan.
“Kakk… Kakk… Mmnnnhhh!!!!! Mmmhh!!!”
Sejumlah besar susu menyemprot ke dalam
mulutku. Aku tahu Vany telah mencapai
klimaksnya yang pertama. Tanganku bergerak
pelahan mengelus perutnya dan merogoh ke
selangkangannya… Benar saja; celana dalamnya
telah basah kuyup.
“Ohh… K… Kakk…” desah adikku terbata. Aku
mengecup bibirnya.
“Lanjut ya, sayang?” kataku. Vany mengangguk,
tersenyum.
Ciumanku bergerak dari bibir ke rahang dan
leher adikku, ke kedua dadanya yang super
besar dan lembut, hingga ke atas perutnya yang
buncit. Kubelai lembut perut adikku,
mengecupnya sekali lagi dengan sayang.
“Mmh… Perut kamu gede tapi bagus banget,
Van…” kataku. Vany tertawa.
“Kakak demen banget ya sama perutku? Padahal
buncit gitu,” katanya imut.
“Seksi tau…” jawabku sungguh-sungguh. Vany
nyengir.
“Sini, Kak… Gantian!” Vany turun dari meja dan
perlahan berlutut di depanku.
Ia membuka kancing dan retsleting celana
jeansku, membiarkannya jatuh ke lantai. Penisku
yang tegang langsung menyembul keluar dari
balik celana dalamku, mengacung tepat ke wajah
adikku. Tanpa aba-aba, Vany langsung
menyedotnya dengan bersemangat.
“Oohh Vann… Astagah.. Pelan-pelann…”
“Mm… Cp… Kakak dabi juga… Mmmhh.. Ga
belan-belan… Mmmm… (Kakak tadi juga ga
pelan-pelan)” jawabnya dengan mulut penuh.
Kepalanya bergerak maju-mundur mengulum
penisku. Lidahnya bergerak liar menjelajah
bagian bawah penisku. Enak sekali.
“Mmmnnhh… Aahh.. Vann… Vanny…” desahku.
Vany melepaskan penisku dari mulutnya,
membiarkannya jatuh di atas dadanya yang luar
biasa montok dan bulat. Ia mengangkat dadanya
dengan kedua belah tangannya dan mulai
menjepit penisku di antara keduanya. Adikku ini
memang spesialis titf*ck. Belum pernah ada
cewek lain yang seenak Vany melakukannya.
“Oohh.. Nnghh… Vann… Kamu emang paling
enak…” erangku keenakan. Vany nyengir sambil
terus menggerakkan dadanya naik-turun,
meremas dan memijat penisku dalam
keempukan dadanya. Rasanya aku memang tak
dapat bertahan lama dibeginikan.
“Kalo diginiin gimana, Kak?” goda Vany.
Tangan kiri Vany menekankan perutnya yang
buncit ke atas, sementara tangan kanannya
memegang dadanya dan menjepitkannya lebih
erat membungkus penisku. Ini luar biasa; sensasi
lembut dan keras perut hamilnya dipadu dengan
empuknya dada adikku yang luar biasa besar.
Tanpa sadar aku menggerakkan pinggulku
maju-mundur, menggosokkan penisku semakin
cepat. Aku tak tahan.
“Nggghhh!! V… Vaan… VannnnNN!!!”
Crott… Crrroootttt…. Cccroottt… Spermaku
seolah tak mau berhenti meledak, melumuri
wajah imut adikku dengan cairan kental putih,
mengalir turun membasahi dada dan perutnya
juga. Aku merosot bersandar pada meja di
belakangku.
“Mmm… Kakak selalu ga tahan kalo digituin,” kata
Vany seraya menjilat sisa sperma di sekitar
mulutnya. Ia kembali duduk di atas meja, dan
dengan ekspresi polos Vany mengusap dan
meratakan cairan kental yang melumuri perut
dan dadanya yang montok itu, seolah spermaku
sejenis krim; pemandangan yang membuat
penisku tak menjadi lemas sedikit pun.
Aku berdiri perlahan, melumat bibir adikku
dengan nafsu, mendorongnya hingga terlentang
di atas meja. Vany tersenyum.
“Ayo, Kak… Langsung aja…” pintanya lembut.
Aku tersenyum dan menurutinya.
Kubuka kancing rok SMP adikku, membukanya
dan membiarkannya merosot ke lantai batu.
Perlahan, aku menarik celana dalamnya yang
basah kuyup dan melepasnya. Vany
mengangkat kedua pahanya yang montok dan
mengangkang lebar-lebar di depanku. Aku
meletakkan penisku di bibir vaginanya yang
tembem dan mulus dengan bulu yang sangat
halus. Perlahan, kumasukkan kepala penisku
yang merah padam ke dalamnya. Vany
menggrunjal sedikit.
“Mmhh… Kakk…” desahnya, menggeliat
merasakan batang penis kakaknya perlahan-
lahan memasuki vaginanya yang sempit dan
hangat hingga mentok.
Tanpa menunggu lagi, aku segera menghujam-
hujamkan penisku ke dalam tubuh Vany. Adikku
menggeliat, mendesah, mengerang keenakan
setiap kali penisku bergerak masuk, semakin
lama semakin cepat.
“Ohh… Nnhhh… Vann.. Vann… Vanny…” kataku
berulang-ulang. Vaginanya yang becek dan
lembut benar-benar nikmat membungkus
penisku.
“Ahh.. Aaahh… Ahhh Kakk.. Nnggghh!!” Vany
mengerang, satu tangan mencengkeram
pundakku, yang lain mengelus perutnya yang
buncit.
Kuremas dadanya kuat-kuat hingga susunya
menyemprot, kumainkan puting kirinya yang
sensitif dengan jemariku, membuat Vany
memejamkan mata dan menggigit bibir
bawahnya menahan rangsangan.
“Oohh.. Kakk.. Kak aku ga bosen bosen digituin..
Ahhh…” desahnya. Keringat membanjiri tubuh
kami. Gerakan pinggulku semakin cepat
menghujam vaginanya. Nafas kami memburu.
Penisku berdenyut-denyut, menghantam-
hantam mulut rahimnya yang sedang
mengandung anakku.
“Aaahh.. NNhhh!! Ooh Kakk.. Kakak… Mmmnhh!!
Aaahh…” Vany menggeletar, badannya semakin
menegang. Ia mengapitkan kedua kakinya ke
pinggangku. Vaginanya mengencang, menjepit
penisku lebih kuat lagi. Aku tahu Vany sudah tak
tahan.
“Van… Vann tunggu bentar Kakak juga..
Nnggghh juga udah mau keluarr…”
“Ga ku.. kuattt… Kaaaakk… KKkk… Aaaahhh…!!!”
Vany orgasme dan squirting berkali-kali kencang
sekali hingga aku harus mencabut penisku dari
vaginanya. Tubuh mungil adikku gemetar hebat
sekali setelah itu, tapi aku benar-benar belum
puas menikmatinya; padahal tadi sudah tinggal
sedikit lagi aku mencapai klimaksku juga. Tanpa
menunggu lama, aku segera memasukkan lagi
penisku ke dalam vaginanya, dan kembali
menggenjot adikku dengan nafsu.
“Aahh.. Hhh.. Kakk.. Kakkk nafs.. nafssuu banget
de…hhhH!.. Aaahh pelan-pelan kakk..” desah
Vany tak karuan. Tangannya mencengkeram
tepi meja, susu menyemprot dari putingnya,
dadanya yang super besar dan perutnya yang
buncit berguncang-guncang seirama tusukan
penisku.
“Mnnhh.. Vann.. Vanny kuarin jurus kamu
donk… Nngghh…” pintaku.
Vany mengangguk, wajahnya menegang,
berkonsentrasi, dan sebentar kemudian
serangan itu datang! Penisku serasa seperti
diserang bergelombang-gelombang pijatan
bertubi-tubi. Ini dia yang kutunggu.
“Oohh… Vaann.. Vannyy!!! VANNN!!!”
Aku meledakkan spermaku berkali-kali ke dalam
rahimnya. Nikmatnya tak dapat kulukiskan
dengan kata-kata. Aku memejamkan mata,
menahan nafas, membiarkan spermaku terus
keluar hingga bulir terakhirnya di dalam tubuh
Vany.
Kucabut penisku, dan segera terlihat cairan putih
kental yang mengalir perlahan dari dalam vagina
adikku, melumuri anus dan menetes ke meja.
Aku merosot, tersengal mengatur nafas, duduk
bersandar pada meja di belakangku. Penisku
ngilu rasanya, tapi seperti biasanya, belum
menunjukkan tanda-tanda melemas setelah dua
kali keluar. Tubuhku tak pernah puas menikmati
Vany.
Saat itu Vany turun dari meja, menegakkan
dirinya, dan berjongkok persis di depanku.
Vaginanya yang basah kuyup, masih
meneteskan spermaku, berada beberapa senti di
atas kepala penisku.
“Lagi, Kak… Aku belom puas… Tanggung
jawab…” perintah Vany sambil mendekatkan
wajahnya padaku. Aku tersenyum, melumat
bibir mungilnya lembut. Tanganku merogoh ke
pantatnya yang montok, membimbingnya
turun.
Vaginanya membungkus penisku erat saat Vany
menurunkan pinggulnya perlahan. Hangat dan
lembut sekali rasanya. Vany mulai bergerak naik-
turun perlahan; perutnya yang buncit dan mulus
menggesek perutku setiap kalinya.
“Nnhh.. Mmhh… Vannn.. Enak banget.. Mmhh…”
desahku.
Vany menikmati sekali posisi ini. Ia
memejamkan mata, menggigit bibirnya.
Tanganku bergerak, meremas-remas pantatnya
yang montok dan padat sambil membantunya
bergerak naik-turun. Dada Vany yang besar
menekan dadaku, membuat susunya mengalir
keluar dan membasahiku. Kucium, kujilat leher
adikku dengan nafsu.
“Aaahh.. Kakkk… Kenapa posisi ini enak.. Bangett
sihh… Nnhhhh” desahnya. Ia mencium pundak
dan leherku, tangannya mencengkeram erat
punggung kakaknya.
Aku mempercepat genjotanku ke dalam
vaginanya. Vany mengerang, menekankan
kepalanya ke pundakku.
“Kakk… Kakak… Nnnnnhhh…”
“Mau keluar, Yang??”
Vany mengangguk liar, memelukku semakin
erat. Aku dapat merasakan vaginanya
menyempit, menjepit penisku kencang-kencang.
Aku menusukkan penisku lebih cepat dan kuat.
Vany menggelengkan kepalanya.
“Mmmmmmmmnn… Nnnnn…
NNNHHaaaaaHH!!!”
Dengan lenguhan panjang Vany orgasme untuk
ketiga kalinya siang ini. Aku dapat merasakan
cairan vaginanya yang dingin meledak keluar,
menyiram penis dan pahaku. Susunya pun
menyemprot banyak membasahi dadaku.
Kucabut penisku dari vaginanya dan
mengarahkannya ke dalam anus adikku. Vany
menjerit kecil ketika penisku menerobos anusnya
yang luar biasa sempit dan mulai menghujam
dengan kuat ke dalamnya. Ini enak sekali. Aku
merosot hingga tiduran di lantai, sementara
Vany terduduk di atasku, bergerak sesuai irama
genjotanku. Dadanya berguncang-guncang
menggiurkan.
“Aaahh… Ahh Kakk.. Nnhhh… Kakk… Mmhh..”
desah Vany sambil mengelus perutnya. Tangan
kirinya meremas dan memainkan dadanya
sendiri, menyemprot-nyemprotkan susu keluar.
Kucengkeram pantat Vany. Anusnya sangat
ketat menjepit penisku, membuatku tak bertahan
lama.
“Van.. Ohh.. Hhh.. Hhh… Vannn Kakak mau
keluarr…”
“Kak… Kakk… Kakk.. Nnhh Nnhhh… Akuu jugga…
MMmmhhhHH…”
“Nngghh.. Vann.. Vannyy… Vannyyy!!!
VANNNY!!”
Aku mengerang, tapi Vany ternyata telah
mencapai puncaknya terlebih dahulu. Ia menjerit
kencang dan squirting kuat-kuat membasahi
pinggang dan pahaku, anusnya menyempit lagi.
Sedetik kemudian aku orgasme, meledakkan
spermaku banyak-banyak ke dalam anus adikku.
Vany roboh ke atasku, terengah, tersengal.
Tubuh kami bersimbah keringat. Penisku yang
telah lemas kucabut dari anusnya, membuat
spermaku meleleh keluar dari dalamnya. Vany
berguling turun dan duduk bersandar ke meja di
sebelahku, matanya terpejam; dadanya bergerak
naik-turun, berusaha mengatur nafas.
“Hh.. Thanks Van…” bisikku setelah beberapa
lama.
Vany mengangguk lemah, lelah.
“Sama-sama…” katanya.
Kami terdiam. Aku mendudukkan diri, melirik
arloji, jam 4.15… Harusnya Cherry sudah selesai.
Aku menoleh ke adikku, perlahan aku meraba
dadanya yang besar. Kudekatkan mulutku ke
putingnya dan mulai menyedot susu yang
manis dari dalamnya. Vany nyengir dan
mendengus tertawa.
“Kak… Belum capek apa? Ntar aku jadi
terangsang lagi loh…” katanya lembut. Ia
membelai rambutku.
“Mmm… Cuma mau minum koq, Yang…”
bisikku. Vany tersenyum. Tanganku mengelus
perutnya, mulus sekali, enak sekali.
Saat itu tiba-tiba aku mendengar suara pintu
dibuka perlahan. Hatiku mencelos. Aku menatap
Vany, melihat ketakutan dan keterkejutan yang
sama di mata adikku. Kami membeku di tempat.
Panik. Tak akan sempat kami memakai pakaian
kami. Langkah kaki perlahan mendekat, semakin
jelas.
“Astagah Diitt… Udah gue duga lu bakal di sini!!”
Aku hampir pingsan karena lega. Cherry,
sahabatku, berkeringat dan terlihat lelah tapi
senang, berdiri bertolak pinggang di hadapanku
dan Vany.
“Duh Cher… Lu bikin gw jantungan,” ujarku lega.
Vany telah tertawa terbahak-bahak di sebelahku.
“Lagian lu kacau sih… Hai, Van!” kata Cherry geli.
Ia melambai ke arah Vany, yang segera berdiri
dan memeluk Cherry erat.
“Apa kabar, Cher??” ujar Vany riang.
“Baik banget… Wah kamu udah gede banget!”
kata Cherry sambil menatap perut adikku. Vany
tertawa.
“Iya donk udah 5 bulan… Salahin dia nih!”
ujarnya sambil menunjukku. Cherry tertawa,
membelai perut buncit Vany dengan lembut.
Heran, koq bisa ga canggung sama sekali sih?
“Yang ini juga gede banget, Van… Bagi-bagi
donk!” ujar Cherry sambil meremas dada Vany
yang memang super besar.
“Eehh!! Cherry!!” seru Vany sambil tertawa dan
menghindar.
“Heh.. Udah-udah ayo pulang,” kataku sambil
memakai celana dan kaosku lagi. Vany
mengambil sehelai kaos dan celana pendek dari
tasnya dan mengenakannya perlahan.
Kami bertiga berjalan ke arah tempat parkir.
Tiba-tiba Vany nyeletuk.
“Cher, kamu… Agak beda deh,”
“Hm? Beda gimana?”
“Ya kan Cher! Emang gw ngerasa agak ada yang
lain dari lu…” ujarku setuju. Vany mengangguk.
Rupanya Vany juga melihat ada sesuatu yang
aneh dari Cherry.
Anehnya, sekali lagi Cherry hanya tersenyum
simpul penuh arti.
* * *
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal
2 Keberangkatan
Sabtu, 3 Januari 2009 – 15.00 WIB.
“Sampe ketemu, Ma…”
“Ya… Ati-ati ya… Jaga adikmu baik-baik. Bulan
depan Mami-Papi kesana.”
Ayah-Ibuku memeluk dan mencium kedua
anaknya. Hari ini aku, Vany, dan Cherry akan
berangkat ke Singapore. Vany akan tinggal di
sana bersamaku hingga setelah melahirkan.
Kami melambai dari balik pintu kaca yang
memisahkan kami dari Ayah dan Ibu, dan mulai
berjalan perlahan menuju ruang tunggu.
“Hmmm… Tinggal di luar negri sendirian enak
ga, Kak?” tanya Vany, mengenakan baju terusan
warna pink muda ditutupi jaket Adidas putih. Ia
berjalan sambil membelai perutnya yang
semakin besar, memasuki bulan keenam
sekarang (Aku berusaha mengalihkan
pandanganku. Celanaku terasa menyempit).
Kami sudah tahu bahwa anak yang di dalam
kandungan Vany berjenis kelamin perempuan,
dan entah kenapa Vany sangat ingin
menamainya Ella.
“Ya ada enaknya ada enggaknya… Tapi kamu
kan ga sendirian,” kataku. “Ada Kakak…”
“Ada aku juga…” ujar Cherry riang. Vany
tertawa.
“Hahaha iya sih…”
Kami berjalan menuju ruang tunggu. Sambil
berjalan, aku tak dapat melepaskan pandanganku
dari sahabatku. Sungguh, ada yang lain darinya,
tapi aku tak dapat menemukan apa. Jelas Cherry
terlihat agak menggemuk setelah sebulan di
Jakarta, tapi itu wajar karena aku pun
menghabiskan sebulan ini untuk makan
makanan yang enak-enak di kota kelahiranku.
Apa ya? Apa pantatnya tambah montok? Aku
jarang bertemu dengan sahabatku ini selama
sebulan terakhir, karena kami masing-masing
sibuk dengan urusan kami sendiri. Kami bahkan
tidak ML sama sekali selama di Jakarta. Aku
menatapnya makin tajam, menyelidiki.
“Heh, lu ngapain ngeliatin gue sampe kayak
gitu?” hardik Cherry.
“Cher… Lu… Seriusan deh ada yang laen. Apa
ya?”
Kali ini Cherry nyengir lebar, nyaris tertawa. Tapi
heran sekali, Vany juga ikut nyengir!
“Ahh Cherr!! Van! Kalian apaan sih kasi tau donk
ada apa!” pintaku tak sabar. Tak kuduga, Vany
yang menjawab.
“Ella kan bakal punya adik, Kak…” ujarnya riang.
Aku melonjak kaget.
“HAH?! Hah jangan bercanda kamu, Van!!” aku
memelototi sahabatku. “Lu… Lu hamil??”
Cherry nyengir, mengangguk.
“Udah 3 bulan…” katanya sambil membuka
retsleting hoodie tebalnya. Ternyata benar,
memang perutnya terlihat buncit dari balik tank
top kuningnya. “… Anak lu juga, Dit. Pasti.”
“Minggu lalu ke Tante Rina sama aku,” jelas
Vany. “Tantenya sampe geleng-geleng waktu
tau ini anak Kakak juga…”
Aku tak dapat berkata apa-apa. Bagaimana ini?
Cherry juga hamil anakku?
“… 3 bulan, Cher?” tanyaku gelagapan. Cherry
mengangguk, tersenyum manis seperti
biasanya. Berarti… Berarti sekitar awal-awal aku
tahu bahwa adikku juga hamil, sekitar akhir
September. Wah ini kacau!
Tiba-tiba aku sadar akan suatu keanehan. Sekali
lagi aku mengamati perut Cherry yang buncit.
“Cher, 3 bulan kata lu?”
“Ya. Napa mank?”
“Koq udah segede itu? Waktu Vany hamil 3
bulan gue liat dari webcam belum begitu keliatan
bedanya,” tuntutku.
Cherry nyengir, Vany tertawa terbahak-bahak.
Astagah ada apa?
“… Kan kembar, Dit…”
“KEMBAR??!!”
TAMAT


Adult | GO HOME | Exit
4/1331
U-ON

inc Powered by Xtgem.com